Wednesday, October 4, 2017

Wasiat dan Pengajaran Suami Kepada Istri



Ketahuilah bahwa, setiap suami hendaknya pandai-pandai memberi pengajaran atau wasiat-wasiat kebajikan kepada isterinya. Rasulullah Saw mengingatkan:

“Mudah-mudahan Allah merahmati seorang suami yang mengingatkan isterinya, ‘hai istriku, jagalah shalatmu, puasamu, zakatmu. Kasihanilah orang-orang miskin di antaramu, para tetanggamu. Mudah- mudahan Allah mengumpulkan kamu bersama mereka di surga”.

Hendaknya seorang suami selalu memperhatikan nafkahnya sesuai dengan kesanggupannya. Hendaknya suami selalu bersabar jika menerima cercaan isterinya, atau perlakuan-perlakuan tidak baik lainnya. Hendaknya suami mengasihani isterinya, yaitu dengan bentuk memberi pendidikan secara baik, kendati ia seorang terpelajar. Sebab kaum wanita bagaimanapun diciptakan dalam keadaan serba kurang akal dan tipis beragama (kecuali hanya sedikit saja yang mempunyai akal panjang dan beragama kuat).  Tersebut dalam hadits yang artinya:

“Kalaulah bukan karena Allah membuatkan penutup rasa malu bagi kaum wanita, niscaya harganya tidak dapat menyamai segenggam debu”.

Hendaknya seorang suami selalu menuntun isterinya pada jalan-jalan yang baik. Memberi pendidikan kepadanya berupa pengetahuan agama (Islam), meliputi hukum-hukum bersuci (Thaharah) dari hadats besar. Misalnya tentang haid dan nifas. Seorang isteri harus diberi pengetahuan tentang persoalan yang sangat penting itu. Sebab bagaimanapun masalah itu berhubungan erat dengan waktu-waktu shalat.

Demikian pula memberikan pengajaran terhadap masalah ibadah. Meliputi ibadan fardhu (wajib) dan sunnahnya. Pengetahuan tentang shalat, zakat, puasa dan haji.
Jika seorang suami telah memberi pendidikan tentang persoalan pokok tersebut, maka isteri tidak dibenarkan keluar rumah untuk bertanya kepada ulama. Tetapi kalau pengetahuan yang dimiliki suami tidak memadai, sebagai gantinya maka ia sendiri yang harus siap untuk selalu bertanya kepada ulama (orang yang mengerti ilmu agama). Artinya, isteri tetap tidak diperkenankan keluar rumah. Namun, kalau suami tidak mempunyai untuk bertanya, maka isteri dibenarkan keluar rumah untuk bertanya  tentang persoalan agama yang dibutuhkan. Hal itu malah menjadi kewajibannya, dan bahkan kalau suaminya melarang keluar  berarti telah melakukan kamaksiatan (dosa).

Tetapi isteri harus meminta izinnya lebih dulu jika sewaktu-waktu hendak belajar mengenai ilmu-ilmu tersebut. Isteri harus memperoleh keridhaan suaminya.


Sumber kitab Syarah ‘Uqudul Lijain

Bersambung ..........

Hak-hak istri terhadap suami

Fasal 5

Kisah
 
Ada seorang salih, ia mempunyai saudara (kawan) yang salih pula. Setiap tahun ia berkunjung kepadanya. Suatu hari ia mengunjunginya lagi, sampai ke rumah yang dituju pintunya masih tertutup. Ia ketuk pintu rumah itu. Dari dalam terdengar suara wanita: “siapa itu?” Orang yang salih menjawab: “aku, saudara suamimu. Aku datang untuk mengunjunginya, hanya karena allah semata”, Istri sahabatnya menjawab: “dia sedang keluar mencari kayu bakar”, kemudian si istri sahabatnya bergumam sambil memakinya suaminya: “mudah-mudahan ia tidak kembali”. 

Ketika mereka sedang terlibat perbincangan, tiba-tiba orang yang salih itu datang sambil menuntun seekor harimau yang sedang membawa seikat kayu bakar. Begitu melihat saudaranya datang mengunjunginya, ia menghambur kepadanya seraya bersalam.

Kayu bakar itu lalu diturunkan dari punggung harimau tersebut. Katanya kemudian: “sekarang pergilah kamu, mudah-mudahan allah memberkahimu”.

Orang yang salih itu (yakni yang empunya rumah) lalu mempersilakan saudaranya masuk. Sementara isterinya masih bergunam memaki-maki dirinya. Namun sebegitu jauh ia hanya berdiam, tanpa menunjukkan reaksi kebencian. Setelah terlibat perbincangan beberapa saat lamanya, hidangan keluar disuguhkan.  Dilanjutkan berbincang-bincang hingga beberapa saat.

Setelah itu saudaranya berpamitan dengan menyimpan kekaguman yang sangat berkesan. Ia sangat kagum sebab saudaranya sanggup menekan kesabarannya menghadap isteri yang begitu cerewet dan berlidah panjang.

Tahun berikutnya ia berkunjung lagi. Sampai di depan pintu ia mencoba mengetuknya. Isterinya keluar dan menyapa: “tuan siapa?” “aku adalah saudara suamimu, balasnya. Kedatanganku ini semata untuk mengunjunginya”.

“oh, selamat datang, tuan, ” kata isteri saudaranya seraya mempersilahkan masuk penuh keramahan. Tidak begitu lama saudara salih yang ditunggunya tiba juga sambil memanggul seikat kayu bakar. Mereka segera terlibat perbincangan sambil menikmati hidangan yang disuguhkan.

Setelah semuanya dirasa cukup, dan ketika ia hendak kembali, ia sempatkan bertanya tentang beberapa hal. Bagaimana dahulu ia dapat menundukkan seekor harimau dan mau diperintah membawakan kayu bakar. Sedang sekarang ini ia hanya datang sendirian sambil memanggul kayu bakar. “kenapa bisa begitu?” tanya saudaranya. Saudaranya menjawab:”ketahuilah saudaraku, isteriku yang dahulu  berlidah panjang itu sudah meninggal. Sedapat mungkin aku berusaha bersabar atas perangai buruknya. Sehingga Allah memberi kemudahan diriku untuk menundukkan seekor harimau, sebagaimana pernah kau lihat sendiri sambil membawa kayu bakar itu. Semuanya terjadi lantaran kesabaranku padanya. Lalu aku menikah lagi dengan perempuan yang shalihah ini. Aku sangat gembira mendapatkannya. Maka harimau itupun dijadikan jauh dariku, karena itu aku memanggul sendiri kayu bakar itu, lantaran kegembiraanku terhadap isteriku yang shaliihah ini. ”


Sumber kitab Syarah ‘Uqudul Lijain

Bersambung ke Fasal 6

Hak-hak Istri Terhadap Suami

Pasal 4

Usaha iblis belum berhenti sampai disitu. Ia kembali menghadap Allah Swt seraya memohon agar diberi kekuasaan untuk mencoba Nabi Ayyub As melalui anak-anaknya.

Allah berfirman:

”Silakan, pergilah. Aku memberi kekuasaan penuh kepadamu  untuk mencoba Ayyub melalui anak-anaknya”.

Iblis berangkat. Yang dituju adalah gedung tempat anak-anak Nabi Ayyub As berlindung di bawahnya. Gedung itu diguncang lalu hancur menindih habis anak-anak Nabi Ayyub As, semuanya mati. Iblis lalu memberi Nabi Ayyub As tentang bencana yang menimpa anak-anaknya.

Apa reaksi Beliau?. Nabi Ayyub AS malah beristighfar memohon ampun kepada Allah Swt.

Usaha iblis tetap tidak menghasilkan apapun untuk merubah ketaatan Nabi Ayyub As. Beliau tetap taat kepada Allah Swt dan bersyukur kepada-Nya. Iblis kembali menghadap Allah Swt seraya memohon agar diberi kekuasaan untuk menguji nya. 

Allah berkata kepadanya:

“Silakan. Aku beri kekuasaan kepadamu untuk menguji melalui tubuh lisan dan akalnya. tetapi bukan hatinya”.

Iblis segera berangkat untuk menggoda Nabi Ayyub As. Sampai ketempat yang dituju ternyata Beliau sedang bersujud. Iblis datang dari arah kepala Beliau, lalu meniup kedua lubang hidungnya dengan sekali tiup. Seketika itu badan Nabi Ayyub As serasa gatal-gatal.

Makin lama terasa semakin gatal. Nabi Ayyub As menggaruk-garuk bagianbagian tubuh yang gatal dengan ujung-ujung jemarinya.  Tetapi belum juga hilang gatal-gatal itu.

Nabi Ayyub As mencoba menggaruk-garuknya dengan kain kasar. Belum juga hilang gatal-gatal itu. Lalu menggunakan kerewang (pecahan genting) dan batu.  Beliau tidak henti-hentinya menggaruk badannya hingga melepuh, sehingga bernanah dan berbau busuk. Masyarakat sekitarnya menganggap berbahaya terhadap penyakit yang sedang dialami Nabi Ayyub As. Mereka sepakat mengasingkan Beliau ke luar daerah. Beliau terusir ke tempat yang kotor. Mereka membuatkan untuk Beliau sebuah gubuk yang hanya ditemani istrinya yang bernama Rahmah.

Meskipun demikian istri beliau, Rahmah, selalu setia melayaninya. Ia berbuat baik sekali kepadanya. Ia perlakukan suaminya penuh kasih sayang.  Kebutuhan-kebutuhan makan dan minumnya selalu diperhatikan. Kaum Nabi Ayyub As yang mendeportasi dirinya terdiri dari tiga golongan. Namun begitu semuanya masih tetap dalam keimanan semula. Mereka tidak meninggalkan agamanya.

Dalam kisah lain diriwayatkan bahwa, ada seseorang bermaksud menghadap Umar Bin Khattab hendak mengadukan perihal perangai buruk istrinya. Sampai ke rumah yang dituju orang itu menanti Umar Ra di depan pintu. Saat itu ia mendengar istri Umar mengomeli dirinya, sementara Umar sendiri hanya berdiam diri saja tanpa bereaksi. Orang itu bermaksud balik kembali sambil melangkahkan kaki seraya bergumam:”Kalau keadaan amirul mukminin saja begitu, bagaimana halnya dengan diriku”.

Bersamaan itu Umar keluar, ketika melihat orang itu hendak kembali. Umar memanggilnya, katanya : ”ada keperluan penting ?”. Ia menjawab :

“Amirul mukminin, kedatanganku ini sebenarnya hendak mengadukan perihal istriku lantaran suka memarahiku. Tetapi begitu aku mendengar istrimu sendiri berbuat serupa, maka aku bermaksud kembali. Dalam hati aku berkata: kalau kedaan Amirul mukminin saja diperlakukan istrinya seperti itu, bagaimana halnya dengan diriku”.

Umar berkata kepadanya:

”Saudara, sesungguhnya aku rela menanggung perlakuan seperti itu dari istriku karena adanya beberapa hak yang ada padanya.  Istriku bertindak sebagai juru masak makananku. Ia selalu membuatkan roti untukku. Ia selalu mencucikan pakaian-pakaianku. Ia menyusui anak-anakku, padahal semua itu bukan kewajibannya. Aku cukup tentram tidak melakukan perkara haram lantaran pelayanan istriku. Karena itu aku menerimanya sekalipun dimarahi. ”

Kata orang itu : ”Amirul mukminin, demikian pulakah terhadap istriku?”.  Jawab umar : ”ya, terimalah marahnya. Karena yang dilakukan istrimu tidak akan lama, hanya sebentar saja”.

Tentang kisah Asiyah  lengkapnya begini; ketika Nabi Musa As mengalahkan para tukang sihir Fir’aun, keimanan Asiyah semakin mantap. Keimananya kepada Allah itu sendiri itu sebenarnya sudah lama tertanam didalam hatinya, dan ia tidak  menyatakan Fir’aun (suaminya) sebagai Tuhan. Begitu Fir’aun semakin jelas mengetahui keimanan istrinya, maka ia menjatuhkan hukuman kepadanya.  Kedua tangan dan kakinya diikat. Asiyah ditelentangkan diatas tanah yang panas, wajahnya dihadapkan kesinar matahari. Manakala para penyiksanya kembali, malaikat menutup sinar matahari sehingga siksaan itu tidak terasa.  Belum cukup siksaan itu dilakukan Fir’aun, ia kembali memerintahkan algojonya supaya menjatuhkan sebongkah batu besar kedada Asiyah.

Manakala Asiyah melihat batu besar itu hendak dijatuhkan padanya, beliau berdoa kepada Allah Swt, yang artinya :”Wahai Allah Swt, Tuhanku, bangunkanlah untukku disisi-Mu sebuah gedung di Syurga, (Q. S. At Tahrim, ayat 11).

Segera Allah memperlihatkan sebuah bangunan gedung di syurga yang terbuat dari marmer berwarna mengkilat. Asiyah sangat bergembira, lalu ruhnya keluar menyusul kemudian barulah sebongkah batu besar itu dijatuhkan pada tubuhnya sehingga beliau tidak merasakan sakit, karena jasadnya sudah tidak mempunyai nyawa.


Syeikh habib Abdullah Al Haddad mengatakan, seseorang yang sempurna adalah orang yang mempermudah hak-haknya, tetapi tidak mempermudah (meremehkan) hak-hak Allah. Sebaliknya orang yang kurang sempurna  adalah orang yang diketahui berlaku sebaliknya.


Sumber Syarah 'Uqudul Lijain
Bersambung ke Fasal 5.

Tuesday, October 3, 2017

Hak-Hak Istri Terhadap Suami

Pasal 3

Rasulullah Saw bersabda:

“Sebaik-baik orang diantara kamu adalah mereka yang paling bagus terhadap istri-istrinya. Dan aku adalah orang yang terbaik diantaramu terhadap keluarga (istri-istri)ku”, (Riwayat Ibnu Hibban).

Dalam riwayat lainnya dikatakan :

“Sebaik-baik orang diantara kamu adalah mereka yang paling bagus terhadap istri-istrinya, dan aku adalah orang yang lebih bagus diantaramu terhadap istri-istriku”.

Rasulullah Saw bersabda :

“Barang siapa bersabar atas keburukan kelakuan istrinya maka Allah S.W.T akan memberi pahala kepadanya seperti pahala yang pernah diberikan Allah S.W.T kepada Nabi Ayyub AS atas cobaan yang diterimanya. Dan barang siapa bersabar atas keburukan kelakuan suaminya maka AllahSwt memberi pahala kepadanya seperti pahala yang pernah diberikan kepada Asiyah istri Fir’aun”.

Perlu diketahui bahwa cobaan yang diberikan Allah Swt kepada NabiAyyub AS adalah terdiri dari empat macam cobaan, yaitu:

Meliputi cobaan atas kebangkrutan (pailit) kekayaannya, kematian semua anak-anaknya, kerusakan pada tubuhnya dan diasingkan oleh masyarakat kecuali hanya istrinya saja yang setia menemani.

Kehancuran harta kekayaan Nabi Ayyub As terdiri dari unta, sapi, kambing, gajah, khimar (keledai). Kekayaan lain milik  Beliau adalah 500 hektar tanah persawahan, semuanya digarap oleh 500 orang, pada setiap orang mempunyai anak istri. Pengikut Beliau terdiri dari 3 golongan semua telah beriman dan masih berusia muda.

Iblis yang diberikan kekuasaan oleh Allah Swt dapat turun naik dari bumi ke langit sewaktu dikehendaki, mempunyai maksud naik ke langit. Tiba-tiba Iblis  mendengar para malaikat membaca Shalawat atas Nabi Ayyub AS. Saat itu juga timbullah rasa Hasud di dalam hatinya. Ia berkata memohon kepada Allah Swt:

“Wahai tuhan, sekarang ini aku memang telah menyaksikan sendiri hamba-Mu Ayyub sangat rajin bersyukur seraya memuji kepada-mu. Tetapi kalau engkau memberi cobaan kepadaku tentu dia tidak akan bersyukur dan tidak pula mentaatinya”.

Allah Swt berfirman kepada Iblis :
“Baik, silakan kamu merangkap. Sekarang aku beri kekuasaan kepadamu untuk mencoba Ayyub As melalui harta kekayaannya”.

Iblis berangkat. Ia mengumpulkan semua anak buah terdiri dari syaitan dan jin ia katakan kepada mereka:

“Sekarang aku telah diberi wewenang untuk mencoba Ayyub As melalui hartanya. ”

Lebih lanjut iblis berkata lagi :

“Ifrit, sekarang  kau kuberi tugas membakar tempat penggembalaan unta-unta milik Ayyub As dan sekaligus membunuh semua unta-unta itu. Laksanakan !”

Iblis datang menjumpai Ayyub AS, saat mana ketika itu Beliau sedang melaksanakan shalat. Iblis berkata kepadanya:

“Tempat penggembalaan unta-untamu terbakar, dan seluruh unta milikmu ikut terbakar pula”.

Apa kata Nabi Ayyub As:

“Alhamdulillah. Allah Swt sendiri yang memberikan kekayaan itu  kepadaku dan hanya dia saja yang berhak mengambil kembali”

Iblis tidak berhenti sampai disitu. Ia meningkat lagi pada kekayaan yang lain.Ia hancurkan semua kambing milik Nabi Ayyub As, berikut tempat penggembalaannya. Ia datang ke Nabi Ayyub As seraya memberitahukan peristiwa itu.


“Angin panas telah menghancurkan kebunnya, tidak ada yang tersisa sedikitpun, ” kata Iblis sehabis merusak semua kebun milik nabi Ayyub As. Apa kata nabi Ayyub As. “ alhamdulillah ...” Kemudian beliau memuji Allah Swt dan menyanjung-Nya. ”

Sumber Kitab Syarah 'Uqudul Lijain

Bersambung ke Pasal 3.

Hak-Hak Istri Terhadap Suami

Pasal 2

Rasulullah Saw bersabda, Artinya:

“Hak istri atas suami adalah memberi makan kepadanya jika ia (suami) makan, memberi pakaian kepadanya apabila ia (suami) berpakaian, dan jangan menampar wajah, jangan menjelek-jelekkan dan jangan membiarkan (memisahkannya) kecuali dalam hal tempat tidur”, (H. R Thamrani dari Muawiyah bin Haidah).

Rasulullah Saw bersabda:

“Siapapun orang laki-laki yang menikahi seorang wanita dengan maskawin yang hanya sedikit atau banyak, tetapi drinya berniat untuk tidak memenuhi hak-hak istri (yakni bermaksud menipunya) lalu lelaki itu mati hingga belum pernah memenuhi hak-hak istrinya, maka dihari kiamat kelak ia akan menghadap Allah Swt dengan menyandang predikat sebagai pezina”.

Rasulullah Saw bersabda:


”Sesunguhnya diantara kesempurnaan keimanan orang mukmin adalah mereka yang lebih bersikap kasih sayang (berlaku lemah lembut) terhadap istrinya”,(H. R Turmudzi dan Hakim dari Aisyah).

Sumber Kitab Syarah 'Uqudul Lijain

Bersambung ke Pasal 3.

Hak-Hak Istri Terhadap Suami

Pasal 1

Allah Swt berfiman sebagaimana tersebut dalam Surat An-Nisaa ; Ayat 19:

 “Hai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kamu mempusakai wanita dengan jalan paksa dan janganlah kamu menyusahkan mereka Karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang Telah kamu berikan kepadanya, terkecuali bila mereka melakukan pekerjaan keji yang nyata dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) Karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak”.

Yang dimaksud adalah pergaulan secara adil. Baik dalam pembagian giliran (kalau kebetulan poligami), pemberian belanja dan berperangai baik dalam ucapan dan tindakan.

Dalam Surat Al-Baqarah ayat 228 diterangkan: 

“Wanita-wanita yang ditalak handaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru'. tidak boleh mereka menyembunyikan apa yang diciptakan Allah dalam rahimnya, jika mereka beriman kepada Allah dan hari akhirat. dan suami-suaminya berhak merujukinya dalam masa menanti itu, jika mereka (para suami) menghendaki ishlah. dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma'ruf. akan tetapi para suami, mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada isterinya. dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.

Diriwayatkan dari Nabi Saw bahwa, saat beliau menunaikan haji wada’ beliau bersabda : Setelah beliau memuji Allah Swt dan menyanjung-Nya serta memberi petuah pada kaum muslimin yang hadir,  Beliau melanjutkan sabdanya:

“Ingatlah, berikanlah wasiat kepada para wanita secara baik, karena mereka hanyalah sebagai tawanan dihadapanmu. Sesungguhnya kalian tidak memiliki apapun dari mereka kecuali kebaikan. kecuali jika mereka itu (wanita) datang dengan membawa perbuatan buruk yang jelas. Kalau wanita melakukan perbuatan tercela, maka berpisahlah sebatas tempat tidur dan pukullah dengan pukulan yang tidak membahayakan. Kalau istrimu mentaati maka kamu jangan mencari alasan lain untuk mengusiknya. Ingatlah sesungguhnya kamu mempunyai hak atas istri dirimu.  Diantara hak kalian atas istri-istrimu adalah melarang istrimu menggelar tikarmu terhadap orang yang tidak kamu sukai dan tidak mengijinkan istriistrimu  memasukkan orang yang tidak kamu sukai. Ingatlah, bahwa diantara hak-hak istrimu adalah memberi pakaian yang baik kepadanya dan demikian pula dalam hal makanannya”.

Sumber Kitab Syarah 'Uqudul Lijain
Bersambung ke Pasal 2.

Monday, September 25, 2017

Shalat Ketika Sakit adalah Cobaan

Shalat adalah suatu kewajiban yang harus dikerjakan oleh siapapun, tanpa kecuali. Apakah dia Islam atau pun bukan, cuma ketika ia tidak bersifat Islam maka tidak sah mengerjakan shalat.

Ketika Allah bertanya kepada orang-orang kafir: "Kenapa kamu dalam neraka saqar? Orang-orang kafir menjawab : Kami bukan golongan orang-orang yang shalat", (Q. S al-Mudatsir: 42-43).

Shalat merupakan ibadah wajib kepada  kepada setiap individu dalam keadaan bagaimana pun, dalam keadaan sehat atau sedang sakit selama masih mempunyai akal.

Sesakit apapun fisik seseorang maka ia masih wajib melaksanakan shalat, walau jasad tidak bisa digerakkan lagi, cuma cara pelaksanaan shalat yang berbeda dengan orang sehat.

Shalatnya orang sakit

Allah Swt tidak pernah memberatkan siapapun dalam hal taat kepada-Nya.

"Allah tidak memberatkan seseorang  melainkan sesuai dengan kesanggupan", (al-Baqarah: 286).

Bahkan dalam hal betaqwa, kita diperintahkan sesuai kemampuan.

"Maka bertaqwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu", (Q. S at-Taghabun: 16).

Berdiri tegak dalam shalat merupakan rukun shalat yang mesti dikerjakan oleh orang-orang yang sehat yang mampu untuk berdiri.

Sedangkan shalat orang yang sakit yang tidak mampu berdiri itu sesuai kemampuannya secara tertib. Tidak mampu berdiri maka shalat dalam keadaan duduk, tidak mampu duduk maka berbaring dengan pinggir kanan dan menghadap kiblat, tidak mampu berbaring maka tidur terlentang, tidak mampu terlentang maka sebagaimana ia mampu dan meng isyarah.

"Shalatlah dengan berdiri, apabila tidak mampu maka duduklah, apabila duduk tidak mampu maka berbaringlah", H. R Bukhari).

Orang yang sakit itu mengerjakan shalatnya sesuai kemampuannya, tidak dipaksakan mengerjakan dalam keadaan berdiri bila tidak mampu mampu berdiri

Tantangan shalat ketika di inpus

Mengerjakan shalat dalam keadaan diinpus bukanlah hal yang mudah, namun sangat sulit, belum lagi saat thaharah.

Berthaharah dengan di infus itu memiliki beberapa persyaratan, yaitu berwudhu' dulu sebelum di pasang infus dan saat di pasang infus tidak membatalkan wudhu'nya.

Bila infus telah dipasang dan masih dalam keadaan thaharah, sah mengerjakan shalat seperti biasa, bila keadaan infus itu suci tidak bernajis.

Kemudian bila telah berhadats, maka untuk melaksanakan shalat lagi adalah dengan berthaharah sepertia biasa, kemudia di anggota mana yang tidak digunakan air secara sempurna maka ia tayamum untuk menggantikan anggota tersebut dan kemudian melanjutkan wudhu'.

Shalat yang dikerjakan dengan wudhu' dan tayamum itu hukumnya sah dan tidak perlu dii'adah bila infus atau jabair itu dalam keadaan suci dan si sahib jabair itu dalam keadaan suci saat infus atau jabair di pasang.

Namun bila jabair atau infus dalam keadaan bernajis, baik najis yang datang kemudian setelah dipasang infus (keluar darah dalam infus) maka shalatnya perlu dikerjakan kembali atau i'adah setelah sembuh.

Dan bila berwudhu' saja tanpa ada debu untuk tayamum, maka ia berwudhu' sebagaimana mungkin, ditempat anggota wudhu' yang bisa menggunakan air dengan sempurna maka menggunakan air dengan sempurna dan bila ada anggota yang tidak bisa menggunakan air dengan sempurna maka disapu saja. Kemudian ia shalat untuk menghormati waktu dan mengkadhakannya setelah sembuh.

Shalat merupakan perioritas utama dalam hidup ini, maka tidak ada istilah shalat tidak bisa dikerjakan. Dan bersyukurlah kepada Allah dengan mengerjakan shalat tepat waktu dan berjamaah bagi lelaki saat keadaan sehat. Dan shalatlah sebagaimana mampu saat sakit.

Pepatah " shalatlah kamu sebelum dishalatkan". Baru shalat "the end" ketika kita telah dishalatkan.

Nontonlah

https://www.youtube.com/watch?v=Xch-

Sunday, September 24, 2017

Allah Mencintai Hambanya Lewat Rasa Sakit

Manusia adalah makhluk yang fana, tidak ada makhluk yang kekal didunia ini. Kehidupan didunia ini hanyalah sesaat, bahkan tak ada seorang pun yang hidup didunia itu seperti ia hidup sehari di akhirat (1 hari akhirat sama dengan 1000 tahun dunia).

Rasulullah juga selalu mengingat kita tentang waktu yang kita miliki agar dipergunakan untuk taat kepada Allah, agar lahirnya keberkatan umur dalam hidup yang hanya sekejap ini didunia tidak sia-sia.

"Ambillah lima sebelum datangnya lima, mudamu sebelum datang tuamu, sehatmu sebelum datang sakitmu, kayamu sebelum datang fakirmu, keleuasanmu sebelum datang kesempitanmu, kehidupanmu sebelum datang kematianmu, (H. R Hakim).

Hakikat dari sehat bukan saja punya badan kekar atau punya akal logis namun lebih dari itu.

Sakit itu adalah badan yang kita miliki dan akal yang logis tidak mampu kita semakin taat kepada Allah, bahkan makin kufur kepada Allah walau secara kasad mata kita normal menurut kebiasaan.

Manusia memiliki dua unsur yang saling keterkaitan dan saling mendukung, yang kedua unsur itu perlu dijaga kesehatannya, yaitu jasmaniah dan rohaniah.

Sakit rohaniah bukan sakit jiwa (gila) saja, tapi ketika jiwa tidak lagi bergetar ketika dibaca ayat-ayat Allah dan tidak pernah terpanggil untuk taat ketika panggilan-panggilan berbunyi diseluruh pelosok dunia.

Maka ketika itu jiwa sedang sakit parah, obatnya adalah belajar ilmu-ilmu agama Islam dari orang-orang yang faham Islam, belajar tentang hakikat dan makna hidup, belajar tasauf agar jiwa merasa lemah untuk tidak mampu bermaksiat kepada Allah.

Sakit jasmaniah hanyalah sakit menurut pandangan mata selama ia tidak terhalang untuk taat kepada Allah, selama ia masih beribadah seperti orang normal walau caranya berbeda. Ini hakikatnya tidak dinamakan sakit, namun proses untuk lebih taat kepada Allah.

Sakit jasmaniah adalah jalan pengampunan Allah

Setiap kita manusia memiliki dausa, karna kita bukanlah para rasul yang maqsum. Cuma dausa yang bagaimanakah yang hinggap ditubuh kita. Dausa besarkah atau dausa kecilkah.

Dausa besar itu diampuni oleh Allah dengan taubat (sesuai caranya bertaubat) dan tidak akanpernah terampuni dengan suatu kebaikan atau ketaatan yang kita perbuat.

Ini sebalik dengan dausa kecil, dausa kecil itu akan terhapus dengan suatu kebaikan atau ketaatan yang kita lakukan atau dengan rasa sakit yang Allah berikan kepada kita.

"Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka mengucapkan "inna lillahi wainna ilahi raji'un". Merka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk", (Q. S Al-Baqarah: 155-157).

Cobaan kenaikan peringkat disisi Allah adalah dengan Allah berikan rasa sakit dan musibah yang lain, ketika dengan musibah kita makin taat kepada Allah maka itulah kelulusan yang hakiki. Dan ketika kita putus asa kepada musibah yang menimpa maka kita telah gagal dalam ujian bahkan tergolong orang yang rugi.

"Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu penyakit dan sejenisnya melainkan Allah akan menggugurkan bersamanya dosa-dosanya seperti pohon yang menggugurkan daun-daunnya", (H. R Bukhari).

"Tidaklah seorang muslim ditimpa keletihan, penyakit, kesusahan, kesedihan, gangguan, kegundah gulanaan sehinga duri yang menusuknya, melainkan Allah akan menghapus sebagian dari kesalahan-kesalahannya", (H. R Bukhari).

Tergantung kepada kita bagaimana menyingkapi suatu penyakit yang Allah berikan kepada kita, bersyukur sehingga kita terpetunjuk dan menjadi orang-orang yang menang disisi Allah yaitu dengan tetap melakukan ibadah kepada Allah bahkan lebih lagi tanpa beranggapan dan menjadikan sakit sebagai penghalang beribadah.

Tidak ada yang bisa menghalangi kita melakukan shalat, taat dan kebaikan lagi, kecuali rohaniah kita sedang sakit atau pun sudah mati.

Mari sama-sama berdoa kepada Allah semoga kita tetap menjadi orang-orang yang terpetunjuk dan senantiasa dalam ridha Allah walau kadang jasmaniah kita sedang sakit.

Wednesday, September 20, 2017

الاحكام فى الفقه (hukum-hukum dalam fiqh)

الاحكام سبعة
الواجب
المندوب
المباح
المحظور
المكروه
الصحيح
الفاسد

فالواجب ما يثاب على فعله ويعقاب على تركه
والمندوب ما يثاب على فعله  ولا يعقاب على تركه
والمباح مالايثاب على فعله وتركه ولايعقاب على تركه وفعله
والمحظور مايثاب على تركه امتثالا ويعقاب على فعله
والمكروه مايثاب على تركه امتثالا ولايعقاب على فعله
والصحيح ما يتعلق به النفوذ و يعتد به
والفاسد مالا يتعلق به النفوذ ولا يعتد به