Showing posts with label sifat. Show all posts
Showing posts with label sifat. Show all posts

Saturday, March 28, 2020

Perbedaan Sifat Dengan Mausuf, Wujud Dengan Maujud, Ilahun Dengan Ilahiyah dan Ilahun Dengan Allah

Ketika ditanyakan tentang perbedaan antara sifat dengan mausuf, wujud dengan maujud, Ilahun dengan Ilahiyah dan Ilahun dengan Allah.

Syeh Muhammad Shalih bin Abdullah al Minangkabawi didalam kitab Kasyful Asrar halaman 6 menjelaskan:

Perbedaan sifat dengan mausuf yaitu sifat sebagai kenyataan mausuf, wujud itu sebagai kenyataan maujud, Ilahun itu kenyataan bagi Ilahiyah, Ilahun itu yaitu Ilahun yang kaya dari pada setiap barang yang lain dan setiap barang yang lain itu berkehendak kepadanya, adapun Allah  itu nama bagi tuhan yang wajib wujud yang bersifat dengan dua puluh sifat wajib.

(Syeh Muhammad Shalih bin Abdullah al Minangkabawi ~ Kasyful Asrar h. 6)

Tuesday, March 24, 2020

Sifat Wahdaniyah Bagi Allah Swt

Sifat yang wajib bagi Allah Swt Wahdaniyah (esa) pada zat, sifat dan af'al.

Makna wahdaniyah (esa) pada zat adalah tidak ada zat Allah Swt itu tersusun dari anggota-anggota, yang dikatakan bagi demikian (tersusun zat dari anggota) itu kam muttasil pada zat. Dan tidak ada sesuatu zat pun menyerupai zat Allah Swt, yang dikatakan bagi demikian (serupa zat lain dengan zat Allah Swt) itu kam munfasil pada zat.

Wahdaniyah pada zat adalah bermakna tidak tersusunnya zat Allah Swt dari anggota-anggota yang diketahukan dari sifatnya mukhalafatuhu lilhawadits.

Makna wahdaniyah pada sifat adalah tidak berbilang-bilangnya sifat, maka tidak ada bagi Allah Swt dua sifat pada satu nama sifat dan makna. Maka sesungguhnya Allah Swt tidak ada baginya dia sifat dari lada satu jenis sifat, seperti dua qudrah, dua ilmu, dan lainnya. Makan dua qudrah adalah qudrah Allah Swt tidak tetap, hari ini qudrah Allah begini dan besoknya lain lagi.

Dan dikatakan bagi Allah memiliki dua sifat dalam satu jenis sifat (seperti dua qudrah) itulah kam muttasil pada sifat.

Dan tiada bandingan bagi sifat Allah Swt yaitu bahwa sesungguhnya tidak serupalah sifat makhluk dengan sifat Allah Swt, maka tidak adalah qudrah bagi selain Allah Swt seperti qudrahnya Allah atau ilmu seperti ilmunya Allah. Dan dikatakan bahwa ada qudrah makhluk itu seperti qudrah Allah itu kam munfasil pada sifat.

Makna wahdaniyah pada af'al adalah bahwa tidak adalah bagi selain Allah itu perbuatan. Maka adanya perbuatan bagi makhluk itu dikatakan kam munfasil pada af'al.

Maka adapun kam muttasil pada af'al itu sebut bagi Allah, karena Allah lah yang mempunyai pekerjaan.

Jika surah kam muttasil pada af'al dengan berbilang-bilangnya perbuatan maka kam muttasil tersebut sebut/tetap yang tidak sah menafikannya, karena af'alnya Allah Swt itu banyak, dari menciptakan makhluk, memberi rizki, menghidupkan dan mematikan, dll.

Dan jika disurahkan kam muttasil  dengan menyatunya perbuatan selain Allah Swt dengan Allah maka dianya itu dinafikan pula dengan wahdaniyah pada af'al, yaitu Allah Swt sendirinya dengan menjadikan dan menciptakan, lagi sendirinya Allah dengan menjadikan (ijad) dan menciptakan (ibda'), yang menjadikan oleh Allah Swt akan makhluk dan perbuatan-perbuatan mereka, rizki-rizki mereka dan ajal-ajal mereka.

Kesimpulan

Bahwa sesungguhnya wahdaniyah itu mencakupi wahdaniyah pada zat, sifat dan af'al yang ternafilah lima kam. Kam muttasil pada zat yaitu tersusunnya zat Allah Swt dari anggota-anggota, kam munfasil pada zat yaitu berbilang-bilang sekira-kira adalah disana dua tuhan atau lebih, maka kedua kam ini ternafi dengan wahdaniyah Allah Swt pada zat, kam muttasil pada sifat yaitu berbilang-bilangnya sifat Allah Swt dari jenis yang satu, seperti dua qudrah maka lebih banyak, kam munfasil pada sifat yaitu bahwa adalah bagi selain Allah Swt itu sifat seperti sifatnya Allah Swt, seperti adalah bagi si Zaid itu qudrah yang menjadikan dan meniadakan oleh si Zaid dengan qudrah tersebut seperti qudrah Allah Swt atau iradah yang mengkhusus ia iradah akan sesuatu dengan sebagian yang mumkin atau ilmu yang melampaui dengan sekalian sesuatu, kedua kam ini ternafi dengan wahdaniyah Allah Swt pada sifat, kam munfasil pada af'al yaitu bahwa adalah bagi selain Allah Swt itu perbuatan untuk menjadikan atau diatas jalan ijad, dan hanya sanya dinisbahkan perbuatan bagi selain Allah Swt diatas jalan kasab (usaha) dan ikhtiar, kam ini ternafi dengan wahdaniyah Allah Swt pada af'al.

Lawan wahdaniyah adalah berbilang-bilang.

Dalil Allah Swt bersifat dengan sifat wahdaniyah adalah dengan makna tiada bandingan pada dan sifat Allah Swt, karena sesungguhnya Allah Swt jikalau adalah Allah itu berbilang-bilang (seperti adanya dua tuhan) niscaya tidak diperdapatkan sesuatu atau sebagian makhluk, tetapi tiadanya wujud makhluk itu batal karena telah kita lihat adanya makhluk, maka sesuatu yang membawaki kepada berbilang-bilang itu batal dan apabila batallah berbilang-bilang niscaya sebutlah wahdaniyah, dan inilah yang dituntut.

Hanyasanya lazim dari berbilang-bang itu tidak wujudnya sesuatu dari alam , karena jikalau ada tuhan itu dua maka boleh jadi sepakat keduanya atau berselisih keduanya.

Maka jika sepakat keduanya niscaya tidak bolehlah bahwa menciptakan sesuatu secara bersamaan, karena bahwa tidak bisa berhimpun dua bekasan  diatas bekasan yang satu dan tidak bolehlah bahwa menciptakan sesuatu secara tertib dengan bahwa menciptakan oleh tuhan satu sebagian dan tuhan yang lain sebagian yang lain karena lazim lemahlah keduanya ketika itu, manakala ta'luq qudrah salah satu tuhan maka tertutuplah qudrah bagi tuhan yang lain.

Dalil sepakat kedua tuhan itu dinamakan dalil tawarud , karena tawarud keduanya diatas sesuatu yang satu.

Dan jika berselisihlah keduanya , seperti jika tuhan satu ingin menjadikan sesuatu di alam ini dan tuhan yang lain ingin meniadakan sesuatu di alam ini, maka tidak terciptalah sesuatu karena saling berselisih.

Dalil berselisih kedua tuhan itu dinamakan dalil tamanu' karena saling menegah dan berselisih keduanya.

Adapun dalil wahdaniyah pada af'al  bermakna tiada kam munfasil pada af'al dengan bahwa adalah bagi selain Allah Swt itu memberi bekas pada perbuatan dari segala perbuatan dengan sendirinya. Jika ditaqdirkan sesuatu itu memberi bekas dengan tabiatnya niscaya lazimlah bahwa terkaya bekasan itu dari Allah Swt, sedangkan sesuatu itu berhajat kepada Allah Swt. Jika ditaqdirkan sesuatu memberi bekas dengan kekuatan yang dijadikan kekuatan tersebut oleh Allah pada sesuatu itu seperti yang didawakan oleh kebanyakan orang awam dari golongan orang mukmin, maka sesungguhnya mereka beri'tiqad bahwa sebab adat itu memberi bekas dengan kekuatan yang dijadikan oleh Allah pada sebab adat. Dan jikalau meencabut qudrah tersebut oleh Allah maka sesuatu itu tidak akan memberi bekas, seperti dakwa mereka sesunguhnya makan itu memberi bekas pada wujud kenyang, minum memberi bekas pada menghilangkan dahaga, api memberi bekas pada wujud membakar dan sikin itu memberi bekas pada wujud memotong dengan kekuatan yang dijadikan oleh Allah Swt pada semua itu, maka demikian itu batal karena Allah Swt ketika itu berhajat kepada perantara dalam menjadikan sesuatu, pada hal keadaan Allah Swt itu kaya yang mutlak dari selainnya, orang yang beri'tiqad demikian itu tidak kafir tetapi fasiq yang berdekatan dengan faham mu'tazilah yaitu sesungguhnya hamba itu menjadikan ia akan perbuatannya yang ikhtiyariah dengan kekuatan yang dijadikan oleh Allah Swt ladanya, orang yang beri'tiqad demikian itu fasiq.

Kesimpulan

Seseorang yang beri'tiqad bahwa sebab adat itu memberi bekas musababnya dengan zatnya , maka dianya itu kafir dengan ijma', seperti api yang membakar, pisau memutuskan, makan mengenyangkan, dan minum menghilangkan dahaga.

Seseorang yang beri'tiqad bahwa sebab adat itu memberi bekas musababnya dengan kekuatan yang dijadikan oleh Allah padanya itu dua qaul, pertama kafir dan yang kedua fasiq yang bid'ah, inilah yang asah. Orang yang berkata dengan i'tikad ini adalah orang mu'tazilah, mereka berkata bahwa hamba menjadikan perbuatan dirinya yang ikhtiyariah dengan kekuatan yang dijadikan oleh Allah Swt pada diri hamba, pendapat asah mereka tidak kafir, karena lengakuan mereka bahwa qudrah hamba itu Allah yang menjadikannya.

Seseorang yang beri'tikad bahwa yang memberi bekas adalah Allah Swt, tetapi Allah Swt menjadikan bekasan itu diantara sebab dan musabab yang lazim secara aqal, maka dianya itu jahik, sekira tidak sahlah mentakhirkan sebab dari musabab, maka kapan-kapan ada sebab niscaya diperdapatkan musababnya.

Seseorang yang beri'tiqad bahwa yang memberi bekas itu adalah Allah Swt dan diantara sebab dan musabab itu lazim adat, maka dialah mukmin naji (sukses), selerti i'tiqadnya bahwa sahlah teryakhirnya sebab dari musabab.

Maka inilah empat macam i'tiqad seseorang dan sekiranya wajib bagi Allah wahdaniyah niscaya mustahil bagi Allah berbilang-bilang, baikbitu muttasil atau munfasil.

(Ibrahim bin Muhammad Al Bajuri, Tijan Darari, h. 4-6)

Wednesday, March 11, 2020

Sifat Qiyamu Binafsi Bagi Allah Swt

Sifat yang wajib bagi Allah Swt qiyamu binafsihi. Qiyamu binafsihi ditafsirkan dengan dua makna, yaitu:

Pertama; bahwa sesungguhnya Allah Swt tidak membutuhkan kepada tempat untuk berdiri.

Kedua; bahwa sesungguhnya Allah Swt tidak membutuhkan kepada Mukhshish, yaitu Mujid (yang menjadikan).

Sedangkan yang kedua ini, jika ada Ianya Allah itu terkaya dari pada Mukhshish dengan sebab sifat qidamnya, niscaya tidak membutihkan pengecualian, karena goresan jahil dalam kitab ini sangat besar kemungkinannya, maka tidak boleh tidak dari pada memperjelas kembali dengan segala aqidah.

Lawan dari sifat qiyamu binafsihi adalah berhajat kepada tempat dan Mukhashish.

Dalil tentang sifat qiyamu binafsihi adalah bahwa sesungguhnya jikalau Allah berhajat kepada tempat (zat) untuk tempat berdiri, niscaya sungguh ada Ianya Allah itu sifat, karena sesungguhnya yang berhajat kepada tempat untuk berdiri itulah sifat, zat tidak membutuhkan kepada zat lain untuk berdiri.

Mustahillah keadaan Allah Swt itu sifat, karena jikalau Allah itu sifat niscaya tidak bersifat Allah dengan sifat ma'ani dan ma'nawiyah.

Sedangkan sifat ma'ani dan ma'nawiyah itu wajib pada Allah Swt, karena telah berdirilah dalil-dalil. Maka tidak bersifatnya Allah dengan sifat itu batal, maka batallah yang menunjuki bahwa Allah tidak bersifat dengan sifat.l Allaherkaya dari pada berhajat kepada tempat.

Maka apabila batallah berhajatnya Allah kepada tempat niscaya sebutlah terkayanya Allah dari pada tempat, inilah yang dicari.

Dan jikalau berhajat Allah Swt kepada Mukhshish (mujid) yang menjadikannya, niscaya sungguh ada Ianya Allah itu bahru, karena yang berhajat kepada Mukhshish hanyalah yang bahru, sedangkan zat Allah yang qadim tidak membutuhkan Mukhshish.

Sedangkan keadaan Allah bahru itu mustahil, karena telah terdahululah wajib wjudnya Allah, qidamnya Allah dan baqanya Allah, nisbah zat dan sifat.

(Ibrahim bin Muhammad Al Bajuri, Tijan Darari, h. 4).

Sifat Mukhalafatu Lilhawadits Allah Swt

Sifat yang wajib bagi Allah Swt adalah mukhalafatu lilhawadits (bersalahan bagi yang bahru).

Maka mukhalafatu lilmakhluq itu ibarat dari pada meniadakan jirmiah, 'ardhiah, kuliah dan juz-iah.

Lazimnya jirmiah (zat) merupakan lazim mengambil tempat, lazimnya 'ardhiah (sifat) merupakan lazimnya membutuhkan kepada zat lainnya, lazimnya kuliah merupakan lazimnya besar dan lazimnya juz-iah merupakan lazimnya kecil kepada selain demikian.

Makna mukhalafatu lilhawadits adalah sesungguhnya Allah Swt itu tidak serupa dengan hawadits (bahru).

Maka apabila Syaithan membisikkan dalam pikiranmu tentang jikalau Allah itu bukan zat jirim, bukan sifat, bukan kulli dan bukan juz-i, maka bagaimanakah hakikat Allah itu?

jawablah untuk menolak bisikan Syaithan tersebut bahwa tidak mengetahui zat Allah kecuali Allah, tidak serupa zat Allah dengan sesuatu pun, Dianya Allah yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat, maka Dianya Allah bukanlah zat jirim yang dapat digambarkan dan bukan sifat yang dibataskan.

Maka tiada bagi Allah Swt itu tangan, mata, telinga, dan lain demikian dari pada sifat hawadits.

Karena sesungguhnya Allah Swt itu tidak serupa dengan zat jisim, tidak serupa pada taqdir, tidak serupa dalam menerima pembagian, tidak terhenti zat Allah oleh jauhar, tidak ada zat Allah itu sifat, tidak terhenti zat Allah oleh beberapa sifat, bahkan tidak serupa wujud Allah  dengan yang bahru dan tidak ada yang bahru itu menyerupai zat Allah Swt, tidak membatasi zat Allah Swt oleh ukuran, tidak meliputi zat Allah Swt oleh wilayah, tidak melingkari zat Allah oleh arah, tidak memenuhi zat Allah Swt oleh bumi dan langit, Maha Tinggi Allah dari segala sesuatu.

Dan beserta demikianlah bahwa Dia Allah itu paling dekat kepada hamba yang menyaksikan atas segala sesuatu, tidak serupalah dekatnya Allah itu dekat zat jisim tentang bahwa Allah Swt melampaui batas. Seperti maha suci Allah Swt bahwa Allah bersatu dengan masa dan tempat yang sebelum masa dan tempat itu diciptakan. Dan tentang Allah sekarang itu bagaiman dirinya Allah Swt.

Lawan dari mukhalafatu lilhawadits adalah mumatsalah lilhawadist (serupa dengan yang bahru).

Dalil mukhalafatu lilhawadits itu bahwa sesungguhnya Allah Swt jikalau tidak ada Allah itu mukhlafatu lilhawadits niscaya sungguh ada Allah Swt itu mumasil (serupa) bagi makhluk, tetapi mumasil Allah bagi makhluk itu batal, karena jikalau ada Allah itu serupa dengan yang bahru niscaya sungguh ada Allah itu bahru seumpamanya, karena sesuatu yang sebut serupa dengan yang lain maka yang lain pun serupa dengannya. Tetapi keadaan Allah itu bahru mustahil, karena sungguh telah berdalilnya Allah dengan wajib qidam Allah Swt. Dan sekiranya wajib mukhalafatu lilhawadits bagi Allah niscaya mustahil lawannya.

10 surah mumasalah (serupa)

Pertama; bahwa Allah itu zat jirim yang terdiri dari anggota-anggota jirim, dinamakan jisim atau tiada terdiri dari anggota jirim, dinamakan jauhar.

Kedua; bahwa Allah itu Sifat yang berdiri dengan jirim.

Ketiga; bahwa Allah itu berada pada suatu penjuru bagi jirim, maka tiadalah Allah Swt itu di atas 'arasy, tiada dibawah 'arasy, tiada dikanan 'arasy dan tiada disegala penjuru.

Keempat; bahwa Allah itu berada disuatu penjuru, maka tiadalah Allah di atas, dibawah, kanan, kiri, dan segala arah penjuru.

Kelima; terhentinya Allah pada suatu tempat.

Keenam; terikatnya Allah dengan suatu masa, sekiranya bergerak kapal itu mengikuti gerakannya.

Ketujuh; mengulangi kepada Allah dua pembaruan, yaitu pada waktu malam dan waktu siang.

Kedelapan; bersifatnya zat Allah Swt yang tinggi dengan yang bahru, seperti qudrah yang bahru, iradah yang bahru, bergerak, tetap, putih, hitam dan lainnya.

Kesembilan; bersifatnya zat Allah dengan sifat kecil atau besar, artinya banyaknya anggota.

Kesepuluh; bersifatnya Allah Swt dengan maksud sesuatu dalam menjadikan atau pun hukum, maka tidak adalah dalam perbuatan Allah dalam menjadikan sesuatu itu punya maksut atau kemaslahatan. Namun dalam semua penciptaan itu punya hikmah dan bukan dalam keadaan bermain-main Allah menciptakan. Mustahillah ini pada Allah Swt, menerimanya shalat seorang hamba bukan suatu maksud bagi Allah atau pun kemaslahatan baginya.


Maka 10 surah mumasalah ini mustahil pada Allah Swt.


(Ibrahim bin Muhammad Al Bajuri, Tijan Darari, h. 3).

Tuesday, March 10, 2020

Sifat Baqa Bagi Allah Swt

Sifat yang wajib bagi Allah Swt baqa, makna sifat baqa adalah sesungguhnya Allah Swt itu tidak ada jenis akhir bagi wujud Allah Swt, yaitu tidak dihubungi wujud Allah Swt oleh 'adam (tiada).

Dalil tentang Allah Swt bersifat dengan baqa adalah bahwa sesungguhnya Allah jikalau tidak wajib bagi Allah sifat baqa, niscaya sungguh ada Allah itu fana, tetapi bersifatnya Allah Swt dengan sifat fana itu mustahil.

Karena jikalau ada Allah itu fana niscaya sungguh ada Ianya Allah itu jaiz wujud (bukan wajib wujud), tetapi keadaan Allah itu jaiz wujud adalah mustahil, karena jikalau Allah itu jaiz wujud niscaya sungguh ada Allah itu bahru. Tetapi keadaan Allah itu bahru itu mustahil, karena jikalau ada Allah itu bahru niscaya sungguh ternafilah qidam bagi Allah Swt, ternafinya sifat qidam bagi Allah Swt itu mustahil, karena telah ada dalil wajib qidam bagi Allah Swt. 

Dan sekiranya wajib baqa bagi Allah Swt, niscaya mustahillah lawannya baqa.

(Ibrahim bin Muhammad Al Bajuri, Tijan Darari, h. 3).

Sifat Qidam Bagi Allah Swt

Sifat yang wajib bagi Allah Swt Qidam.

Makna qidam adalah tidak jenis awal bagi Allah Swt artinya tidak didahului oleh 'adam (tiada) pada wujud Allah Swt.

Lawan dari qidam adalah hudus (didahului 'adam pada wujud Allah).

Dalil Allah bersifat qidam, yaitu cara mendirikan dalil kepada wajib qidam bagi Allah Swt bahwa engkau kata "jikalau tidak ada Allah itu qidam, niscaya adalah Allah itu bahru, karena antara qidam dan bahru itu tiada perantaraan. Tetapi keadaan Allah itu bahru itu mustahil. Karena jikalau ada Allah Swt itu bahru niscaya sungguh berhajat Allah Swt kepada Muhdits (si Pembahru), karena setiap yang hadits itu tidak boleh tidak baginya hadits itu Muhdits, jikalau terjadinya Muhdits dengan sendirinya niscaya lazimlah berkumpul dua kekurangan, yaitu musawah (persamaan) dan rajhan (lebih kuat). Tetapi berhajatnya Allah Swt kepada Muhdits itu mustahil, karena jikalau Allah berhajat kepada Muhdits niscaya berhajatnya Muhdits Allah kepada Muhdits yang lain, maka lazimlah dur atau tasalsul, sedangkan dur dan tasalsul keduanya mustahil, yaitu tidak mungkinlah wujud keduanya". Dan sekiranya wajib bagi Allah qidam niscaya mustahillah lawannya qidam.

(Ibrahim bin Muhammad Bajuri, Tijan Darari, h. 3)

Sifat Wujud Bagi Allah Swt

Wujud yang zat yang tidak diterimakan 'adam (tiada) pada azali dan pada selamanya.

Wujud merupakan sifat nafsiah artinya yang sebut menunjuki sifat di atas diri zat, bukan bermakna lebih dari zat.

Kewajiban mukalaf untuk mengetahui bahwa Allah Swt itu maujud sebagai wujud yang wajib, dan tiada wajib mukalaf mengetahui wujud Allah sebagai wujud 'in zat atau bukan zat, karena yang demikian itu termasuk dalan pembahasan sehalus-halus ilmu kalam.

Lawan wujud adalah 'adam (tiada).

Dalil Allah Swt bersifat wujud adalah adanya makhluk (selain Allah).

Cara menstrukturkan mendirikan dalil diatas wajib wujudnya Allah Swt itu bahwa engkau kata "alam dari 'arasy sampai firasy itu bahru (wujud sesudah tiada), dan setiap yang bahru itu wajib ada zat yang menjadikannya yang wajib wujud, maka alam itu ada Sani' (yang membuat), kemudian keadaan Sani' ialah Allah Swt yang diambil faedah dari dalil-dalil wahdaniah. Dan sekira-kira wanib bagi Allah wujud, niscaya mustahil bagi Allah lawannya wujud ('adam).

(Ibrahim bin Muhammad Bajuri, Tijan Darari, h. 3)