Zakat fitrah
merupakan kewajiban setiap jiwa untuk mengeluarkannya, apabila seseorang telah
mendapatkan dua juzuk, yaitu akhir dari pada Ramadhan dan awal dari pada Syawal.
Dimensi Zakat
Fitrah
Qadar Zakat
Fitrah
Zakat fitrah
merupakan kewajiban setiap jiwa untuk mengeluarkannya, apabila seseorang telah
mendapatkan dua juzuk, yaitu akhir dari pada Ramadhan dan awal dari pada Syawal.
Dimensi Zakat
Fitrah
Qadar Zakat
Fitrah
Setiap malam
dan hari Ramadhan mempunyai hikmah dan kelebihan yang berlipat ganda, baik itu
sepuluh pertama, sepuluh pertengahan maupun sepuluh yang terakhir.
“Setiap
kebaikan akan dibalas sepuluh kelipatan bahkan sampai dengan tujuh ratus
kelipatan kecuali puasa, maka puasa itu untuk Ku dan Aku yang akan membalasnya”,
(Hadits Qudsi, Riwayat Malik dalam kitab Muwatha dan Bukhari dalam kitab
Puasa).
Ini menjelaskan
bahwa tentang puasa tidak ada seorang pun dapat menilainya, karena puasa itu
antara hamba dan Khaliq, tentang bagaimana kualitas puasa seseorang hanya
dirinya dan Allah sajalah yang mengetahuinya.
Bahkan orang
yang melaksanakan puasa Ramadhan dengan sungguh-sungguh karena Allah Swt, ia
tidak mengharap apa pun dari selain Allah, selain di ampuni semua dosanya juga
akan dijauhkan dirinya dari api neraka.
“Barang
siapa berpuasa satu hari dijalan Allah, niscaya Allah akan menjauhkan dari
padanya neraka Jahannam sejauh seratus tahun perjalanan”, (H. R. Nasa-i).
Intinya, segala
sesuatu yang diperbuat oleh orang yang berpuasa di bulan Ramadhan itu tidak ada
yang sia-sia, bahkan tidurnya pun bernilai ibadah.
“Diam orang
yang berpuasa adalah tasbih, tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadat, doanya
orang yang berpuasa adalah mustajabah dan amalannya orang yang berpuasa akan
berlipat ganda”, (H. Takhrij Dailami).
Apalagi
ditambah dengan qiyamul lail, yaitu melaksanakan shalat terawih, membaca quran,
berdoa, berzikir kepada Allah serta berselawat kepada Rasulullah, ditambah
dengan majlis-majlis ilmu.
Ruh Qiyamul
Lail
Setiap ibadah
yang dilakukan itu tidak pernah terlepas dari tuntunan syar’i bahkan dalam
melaksanakan qiyamul lail di bulan Ramadhan sekalipun.
Shalat terawih
yang dilaksankan dalam bulan Ramadhan merupakan bagian dari qiyamul lail dan
ini punya tata cara sesuai imam mazhab.
Dalam
melaksanakan shalat terawih bukan saja melihat kuantitas tapi butuh juga
kualitas, begitu juga sebaliknya, ini sebagaimana telah dicontohkan Rasulullah
Saw.
Shalat malam
Ramadhan Rasulullah itu sarat dengan ruhnya, sehingga bukan saja sudah shalat
namun mengandung kualitas yang sangat sempurna.
Jadi, kalau
kita hanya melihat saja kuantitas yaitu jumlah rakaat tidak melihat kualitas
maka sungguh kita belum melaksanakan qiyamul lail sebagai Rasulullah saw laksanakan,
apalagi dengan rakaat yang sedikit dan waktu shalat yang ringkas, maka disini
para sahabat menambah jumlah rakaat untuk menutupi kualitas yang tidak maksimal
sebagaimana Rasulullah Saw laksanakan.
Keadaan shalat
malam Ramadhan Nabi, sedikit rakaat dan sangat lama shalatnya, Nabi shalat
sebelas rakaat (asal) atau tiga belas rakaat (Qalilun Nadir), tapi dengan
jumlah rakaat ini sangat lamalah shalat beliau, bahkan hampir-hampir semalam
penuh Rasulullah Saw shalat qiyamul lail.
Para sahabat
menyebutkan: “orang-orang yang shalat bersama Rasulullah Saw pada malam
Ramadhan yaitu qiyam yang sangat lama dan panjang yaitu sampai dengan waktu
sahur”.
Shalat malam
Ramadhan orang-orang Salaf itu, yaitu banyak rakaatnya dan pendek shalatnya, ini
yang dikerjakan para Sahabat Rasulullah saw. Karena mereka takut terjadi
kepayahan dan kesulitan kepada manusia untuk qiyam shalat dengan waktu yang
lama, maka mereka meringankan dengan memendekkan qiyam saat shalat, kemudian
menggantikannya dengan banyak rakaat, yaitu dengan melaksanakan shalat dua
puluh rakaat atau tiga puluh enam rakaat.
Sedangkan
shalat malam Ramadhan orang Khalaf itu sedikit rakaatnya dan pendek shalatnya,
dan ini tidak memperhatikan bagaimana kualitas shalat Rasulullah Saw, hanya
melihat jumlah rakaatnya saja. Dan ini keadaan yang tidak baik, karena
bertentangan dengan maksud syariat.
Intinya
Rasulullah Saw shalat malam Ramadhan bukan saja dilihat dari kuantitas tapi
juga dari kualitas, yang shalatnya sampai dengan waktu sahur walau hanya
sebelas rakaat.
Kemudian para
imam Mazhab pun menentukan jumlah rakaat shalat malam Ramadhan sebagaimana yang
telah dikerjakan oleh para sahabat Rasulullah Saw untuk mendapatkan kuantitas
dan kualitas ruh qiyamul lail.
Imam Malik
berpendapat bahwa jumlah shalat terawih itu dua puluh rakaat dan tiga puluh
enam rakaat untuk ahli Madinah, Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa shalat
terawih itu dua puluh rakaat, Imam Syafii berpendapat bahwa jumlah rakaat
shalat terawih itu dua puluh rakaat dan Imam Ahmad bin Hanbal juga berpendapat
bahwa jumlah shalat terawih itu dua puluh rakaat.
Dimanakah Ruh
Qiyamul Lail Itu?
Ruh qiyamul
lail itu ketika melaksanakan qiyamul lail sebagaimana maksud dan tujuan
Syariat. Rasulullah telah mencontohkan bagaimana kualitas shalat beliau walau
rakaatnya sedikit namun shalat beliau itu sampai dengan waktu sahur, dan para sahabat
telah memperbanyak rakaatnya untuk menutupi tidak panjangnya qiyam sebagaimana
qiyam Rasulullah Saw.
Shalat terawih
itu merupakan syariat yang diperintahkan untuk mendekatkan manusia kepada Tuhan
nya. Maka sesungguhnya shalat itu merupakan hubungan terbesar antara hamba dan
Tuhan nya.
Maka ketika
kita tidak mampu mengikuti kualitas shalat Rasulullah Saw, maka jangan hanya
mengambil rakaatnya saja, namun kembalilah sebagaimana yang telah dipraktekkan
para sahabat bahkan itu sepakat para Imam Mazhab.
Intinya, ruh
qiyamul lail itu adalah ibadah yang dilakukan oleh hamba dengan kualitas
sebaik-baiknya untuk dipersembahkan kepada Tuhan nya kemudian fahala tersebut
diberikan kembali kepada si hamba.
Shalat, membaca
Quran, zikir, berdoa dan berselawat itu dilakukan dengan penuh keikhlasan dan
itu merupakan perwujudan ibadah hamba dengan Tuhan nya dan tidak membutuhkan
penilaian dari sesama hamba.
Biarkan setiap
hamba itu khusyuk dengan munajahnya dalam menghidupkan qiyamul lail untuk
mendapatkan kualitas terbaik sehingga qiyamul lailnya memiliki ruh yang hidup,
bukan sekedar gerakan atau bacaan.
Cinta itu sesederhana ucapan "I Love You ... I Love You Too dan ada rasa rindu di qalbu".
Cinta itu menyatu ketika Aku menjadi imam dan kamu menjadi makmum.
Kenikmatan cinta ketika si suami memiliki ilmu agama dan sebagai lelaki shaleh dan si wanita taat kepada Allah dan suami dan sebagai wanita shalihah.
Wanita berusaha setia dengan menjaga harta suami, tempat tidur, aurat serta kemaluannya buka diumbar kepada lelaki lain.
Wanita tidak berharap isi dunia dimilikinya, tapi senantiasa berharap ia di bimbing menuju jalan syurga.
Cinta itu ketika suami melihat kesempurnaan kepada istrinya dan istri menikmati kekurangan suami sebagai kesempurnaan.
Hakikat cinta adalah ketika suami istri saling meridhai dan melengkapi serta cintanya bukan penyekat untuk cinta yang hakiki kepada Rab (Tuhan) nya.
❤️❤️❤️
(@joelbuloh)
oleh : Muhammad Ajib Rochani
(ditempel disini biar ada yang ngoreksi)
Keterangan :
1. Qullah artinya al-jarrah adh-dhokhmah (guci/tempayan/klenthing wadah air yang besar). (syaikh Ali Jum’ah, al makayil wal mawazin as-syar’iyyah).
2. Qullah (guci/tempayan/klenthing wadah air) yang dibuat ukuran pada kitab fikih adalah qullah buatan Kabilah Hajar yang dikenal sebagai pembuat qullah (guci/tempayan/klenthing wadah air). (al-imta’, syaikh Hisyam Kamil al-Azhari).
3. 2 Qullah = 500 Rithl Baghdad/Iraq (ibukota Daulah Abbasiyyah saat imam abu syuja’ hidup). (al-imta’, syaikh Hisyam Kamil al-Azhari).
4. 1 ritlh = 382,5 gram (syaikh Ali Jum’ah, al makayil wal mawazin as-syar’iyyah). Jadi,
2 Qullah = 382,5 gram (1 rithl baghdad) x 500 = 191250 gram = 191,25 kg.
Atau,
5. 1 Qullah = 95,625 kg (syaikh Ali Jum’ah, al makayil wal mawazin as-syar’iyyah). Jadi,
2 Qullah = 95,625 kg x 2 = 191,25 kg
6. Sekarang kita konversi kilogram (kg) ke meter kubik (m3) untuk diaplikasikan ke bak air.
Satuan dasar dalam sistem metrik, Satu liter air memiliki berat satu kilogram. (https://www.metric-conversions.org).
1 kg air = 1 liter air
2 Qullah = 191,25 kg = 191,25 liter air
Atau lebih kurang 200 liter (al-imta’, syaikh Hisyam Kamil al-Azhari)
Untuk memudahkan penghitungan, kita memakai pendapat syaikh Hisyam Kamil al-Azhari ini saja yaitu lebih kurang 200 liter air.
1 m3 (Satu meter kubik) sama dengan 1000 liter. Atau,
1 liter = 1/1000 m3 (https://berhitung.id/konversi/volume/liter-ke-m3).
Volume (V) dalam m3 sama dengan Volume (V) dalam liter dibagi 1000,
Lalu, 200 liter air berapa m3?
V(m3) = V(liter)/1000
V(m3) = 200/1000
= 0,2 m3
1 m3 setara dengan 1.000.000 (1 juta) cm3.
(https://berhitung.id/konversi/volume/m3-ke-cm3).
0,2 m3 = berapa cm3?
Volume (V) dalam cm3 sama dengan Volume (V) dalam m3 dikali 1.000.000:
V(cm3) = V(m3) x 1.000.000
V(cm3) = 0,2 m3 x 1.000.000
= 200.000 cm3
200.000 cm3 itu berada dalam bak air ukuran berapa?
Karena ukuran ini bersifat kurang-lebih (taqdiran) bukan pasti (tahdidan), maka ukuran bak airnya bisa bervariasi.
Bisa, 100 cm x 100 cm x 20 cm = 200.000 cm3
Bisa, 60 cm x 60 cm x 60 cm = 216.000 cm3
Bisa, 50 cm x 50 cm x 80 cm = 200.000 cm3
Atau bisa 60 cm x 60 cm x 55 cm = 198.000 cm3
Dengan batas minimal volume 191,25 liter air atau 191,25 cm3 diatas sebelum dibulatkan 200 liter air untuk berhati-hati.
kalau diukur dengan galon air mineral (bukan ukuran galon amerika atau Inggris) yang besar ukuran 19 liter berarti 11 galon kurang lebih.
sekian.
Tambahan :
Di kitab yg sama syaikh Ali Jum'ah menyatakan bahwa 2 Qullah sama dengan 5 geriba/wadah air dari kulit (Qirbah/Qirab).
padanan pada budaya jawa yang tepat mungkin bukan klenthing seperti keterangan diatas, tetapi gentong.