Saturday, December 15, 2018

APAKAH BID'AH ITU?


Pertanyaan.

Menurut ahli sunnah wal jamaah, bid’ah terbagi dua yaitu bid’ah hasanah(baik) dan bid’ah dhalalah(bid’ah sesat), tetapi ada sekolompok orang yang berpendapat bahwa bid’ah  itu hanya satu yaitu bid’ah dhalalah(bid’ah sesat).Nah, siapakah yang benar ini ?

Jawab.
Untuk mengetahui mana yang benar dan yang salah, terlebih dahulu kita harus mengetahui arti atau definisi dari kata-kata bid’ah menurut masing-masing kelompok yang berbeda pendapat itu, baik disegi bahasa maupun menurut istilah.


I . BID’AH DALAM PENGERTIAN BAHASA ARAB.

Secara etimologi, bid’ah artinya setiap perkara baru yang diadakan atau diciptakan tanpa adanya contoh terlebih dahulu.

Tersebut dalam kitab kamus Munjid

مااحدث على غير مثال سابق

“Sesuatu yang diadakan  atas tiada contoh yang  terdahulu”.


II . BID’AH MENURUT ISTILAH  AGAMA

Ada dua kelompok ulama yang mendefinisikan bid’ah menurut istilah syara’, yaitu:
1.    Ulama yang mendefinisikan bid’ah secara umum, yaitu setiap perkara baru yang belum, atau tidak dikerjakan dimasa Rasulullah SAW.

2.   Ulama yang mendefinisikannya secara khusus, yaitu setiap perkara baru yang diada-adakan yang bertentangan dengan syari’at Nabi Muhammad SAW.


A . DEFINISI KELOMPOK PERTAMA

Telah diketahui bahwa ulama kelompok pertama mendifinisikan bid’ah menurut istilah agama secara umum.

1 . Berkata Imam Asy-Syafiiy

المحدثات في الأمور ضربان: أحدهما ما حدث يخالف كتاباً أو سنة أو أثراً أو إجماعاً فهذه البدعة الضلالة. والثاني: ما أحدث من الخير لا خلاف فيه لواحد من هذا فهي محدثة غير مذمومة.

"Perkara baru yang tidak ada di zaman Nabi Muhammad SAW itu ada dua macam: pertama perkara baru yang bertolak belakang dengan Al Qur'an, Sunnah, pendapat sahabat atau Ijma, maka itu termasuk bid'ah yang sesat (bid'ah dhalalah). kedua perkara baru yang termasuk baik (hasanah), tidak bertentangan dengan Al Qur'an, Sunnah, pendapat sahabat atau Ijma, maka perkara baru ini tidak tercela."( Lihat: Manaqib Asy-Syafi’iy. Hilyatul Auliya’ oleh Abu Nu’aim: 9/113).

2 . Imam Abdurrahman bin Ismail Al-Muqadisiy Asy-Syafi’iy, yang terkenal dengan Abu Syammah (wafat: 665 H), mendifinisikan bid’ah sebagai berikut

وهو مالم يكن في عصر النبي صلى الله عليه وسلم، مما فعله، أو أقر عليه، أو علم من قواعد شريعته الإذن فيه، وعدم النكير

“Sesuatu yang tidak ada pada masa Nabi Muhammad SAW, baik perbuatannya,atau pengakuannya, atau sesuatu yang tidak diketahuikan akan adanya izin dan tiada ingkar dalam qaidah-qaidah syari’atnya”.(Lihat: Al-Baa’is ala Inkari Al-Bid’ah)

3 . Berkata Ibnu Atsiir

البدعة بدعتان: بدعة هدى وبدعة ضلال .. فما كان في خلاف ما أمر الله به ورسوله صلى الله عليه وسلم، فهو في حيز الذم والإنكار، وما كان واقعاً تحت عموم ما ندب الله إليه وحض عليه أو رسوله فهو في حيز المدح

"Bid'ah itu ada dua macam, bid'ah huda (yang berpetunjuk) dan bid'ah dhalal (sesat), jika perkaranya bertolak belakang dengan apa yang diperintahkan Rasulullah SAW maka itu termasuk tercela dan dikecam. Jika perkara itu termasuk yang disunahkan dan dianjurkan maka perkara itu terpuji”. (lihat An-Nihayah, karangan Ibnu Al Atsir juz 1. h. 80).

4 . Syeikh Izzuddin bin Abdissalam (wafat: 660 H), dalam kitab Qawaa’idul Ahkam, menyebutkan:

البدعة فعل مالم يعهد في عصر رسول الله صلى الله عليه وسلم

“Bid’ah adalah mengerjakan suatu pekerjaan yang tidak dikenal pada masa Rasulullah SAW”

Dan beliau membagikan bid’ah kepada lima bagi, yaitu:
1.      Bid’ah wajib
2.      Bid’ah sunat
3.      Bid’ah haram
4.      Bid’ah makruh
5.      Bid’ah mubah

Inilah sebagian daripada definisi ulama kelompok yang pertama, dan masih banyak lagi yang tidak kami sebutkan disini.

Jadi, Menurut definisi dari ulama kelompok pertama, maka bid’ah itu ada yang baik (hasanah) dan ada yang tercela( mazmumah), tidak semua bid’ah itu hasanah, dan tidak pula semuanya mazmumah dan dhalalah(sesat).Yang sesuai dengan sunnah, maka itu bid’ah hasanah dan yang bertentangan dengannya dinamakan bid’ah mazmumah dan dhalalah.


B .DEFINISI KELOMPOK KEDUA

Telah diketahui bahwa ulama kelompok kedua mendefinisikan bid’ah menurut agama secara khusus.

1 . Berkata As-Sayuthi:

والبدعة عبارة عن فعلة تصادم الشريعة بالمخالفة، أو توجب التعاطي عليها بزيادة أو نقصان

”Bid’ah adalah ungkapan tentang perbuatan yang bertabrakan dengan syari’at dengan cara menyelisihinya atau melakukannya dengan cara menambah atau mengurangi” ( Al-Amru Bi Tiba’  wan Nahyi anil Ibtida’ :1 hal 5).

2 . . Ibnu Rajab Al-Hanbali berkata:

بدعة : وهي ما أحدث على خلاف أمر الشارع ، ودليله الخاص أو العام.  ابتداع الأمور التي ليس لها أصل في الشرع ، أما ما كان مبنيا على قواعد الأصول ومردودا إليها . فليس ببدعة ولا ضلالة .
"Bid'ah adalah sesuatu yang baru yang diada-adakan atas sebalik perintah Syari', dan dalilnya yang khusus atau umum. Mengadakan perkara yang tidak ada asalnya pada syara’. Adapun sesuatu yang terbangun diatas qaidah-qaidah usul(syara’) dan dikembalikan kepadanya, maka itu bukan bid’ah dan tidak sesat".(Lihat: Tuhfatu Rabaniyah Syarah Arbain An-Nawawi : Hadits ke 28).

3. Berkata Asy-Syathibi

البدعة طريقة في الدين مخترعة تضاهي الشرعية ، يقصد بالسلوك عليها المبالغة في التعبد لله

” Bid’ah adalah sebuah tata cara dalam agama yang dibuat-buat yang menyerupai syari’at yang maksudnya adalah berlebih-lebihan dalam beribadah kepada Allah( Lihat: Al-I’tisham)

4 . Sa’id bin Ali bin Wahaf  Al-Qahthaniy berkata:

وهي التي لم يدل عليها دليل شرعي لا من كتاب، ولا سنة، ولا إجماع، ولا استدلال معتبر عند أهل العلم، لا في الجملة ولا في التفصيل؛

“Bid’ah adalah sesuatu yang tidak menunjuki oleh dalil syara’ atasnya, tidak ada dalam Kitab (Al-Quran), tidak ada dalam sunnah, tidak ada dalam ijma’ , tidak menunjuki dalil yang mu’tabar(yang dapai dipakai) menurut ahli ilmu, tadak ada secara global, dan tidak ada secara terperinci”. :( Nurussunnah wa Dhulmatulbid’ah .1 hal 28).

4 . Syeikh Ahmad bin Asy-Syaikh Hijaziy Al-Fasyaniy berkata:

ما آحدث على خلاف امر الشارع ودليله الخاص او العام. فآن الحق فيما جاء به الشرع وليس بعد الحق الا الضلال

"Bid'ah adalah sesuatu yang baru yang diada-adakan atas sebalik perintah Syari', dan dalilnya yang khusus atau umum. Karena kebenaran itu pada apa yang dibawa oleh syara’, dan tidak ada yang datang sesudah kebenaran kecuali kesesatan”.(Lihat: Majalisusaniah, hal 87, hadits ke 28).

5 . Berkata Ibnu Umar RA.

وعن ابن عمر رضي الله عنه، قال: كل بدعة ضلالة وإن رآها الناس حسنة.

“Dari Abdullah bin Umar radliyallahu ‘anhuma ia berkata,” Setiap bid’ah itu sesat walaupun dipandang baik oleh manusia”.(Al- Amru bi Il- Itba' wan Nahyu  Anil Ibtida': 1/ 3).

Inilah diantara difinisi-definisi dari ulama kelompok kedua.

Jadi. Menurut definisi dari ulama kelompok kedua ini, semua bid’ah dalam agama adalah mazmumah dan dhalalah(sesat). Walaupun orang-orang menganggapnya baik. Adapun yang tidak bertentangan dengan qaidah-qaidah syara’, maka itu bukanlah bid’ah dan tidak sesat.


C . KESIMPULAN.

Setelah kita memperhatikan semua definisi bid’ah dari kedua kelompok ulama nampaklah bagi kita bahwa:

1.    Urusan atau perbuatan yang bersangkutan dengan agama yang tidak dikenal atau dikerjakan dimasa Rasulullah SAW dan baru dikerjakan sesudah Beliau wafat, apabila  bertentangan dengan perintah Allah dan Rasulullah SAW, atau tidak bersumber dari Al-Quran, Alhadits, Ijma’, atau tidak didapatkan dalinya secara khusus atau umum dalam agama, maka semua ulama sepakat untuk memberi istilah kepada perbuatan ini dengan ‘Bid’ah mazmumah(yang tercela), atau bid’ah dhalalah(sesat), atau bid’ah qabihah( yang keji)’.

2.      Adapun perbuatan yang bersangkutan dengan agama yang tidak dikerjakan dimasa Rasulullah SAW, dan baru dikerjakan sesudah Beliau wafat, apabila terdapat sumbernya dari Al-Quran, Al-Hadits, Ijma’, atau qa’idah-qa’idah syara’, baik secara khusus atau umum, maka menurut sebagian ulama perbuatan ini dinamakan dengan “bid’ah hasanah (baik), atau bid’ah mahmudah (terpuji).

SSedangkan menurut sebahagian yang lain, perbuatan ini dinamakan dengan Sunnah, bukan bid’ah.
Contoh:

1.      Membukukan kitab suci Al-Quran, yang dilakukan mulanya oleh Saidina Abu Bakar Ash-Shiddiq RA, dan kemudian dilanjutkan dan disempurnakan oleh Saidina Usman bin Affan RA.

2.      Sembahyang tarawih 20 rakaat yang dikerjakan secara berjamaah sebulan penuh di mesjid yang diadakan oleh Saidina Umar RA.
3.      Azan pertama pada sembahyang jum’at yang diperintahkan oleh Saidina Usman RA.
4.      Dan banyak lagi contoh lainya.

Maka menurut sebahagian Ulama, ini semua dinamakan dengan bid’ah hasanah. Karena semua ini tidak dikerjakan dimasa Rasulullah SAW, dan baru dikerjakan oleh para sahabat Nabi yang utama, dan perbuatan mereka tidak bertentangan dengan syara’.  

Sedangkan ulama lainnya menamakan ini semua dengan sunnah, bukan bid’ah. Karena semua ini merupakan sunnah Khulafaurrasyidin, dan Nabi SAW, memerintahkan kita untuk mengikuti sunnah mereka. Nabi SAW, bersabda:


فعليكم بسنتى وسنة الخلفاء الراشدين المهدين من بعدي

“Wajib atas kamu memegang dengan sunnahku dan sunnah khulafaurrasyidin yang diberi petunjuk sesudahku”. (HR. Abu Daud dan Tirmiziy).

Setiap urusan agama yang diada-adakan tanpa bersumber dari agama tidak boleh dikerjakan. Karena itu bid’ah dhalalah(sesat). Semua ulama sepakat tentang masalah ini. Dan setiap urusan agama yang bersumber dari agama, boleh dikerjakan walaupun urusan itu tidak dikerjakan dimasa Rasulullah SAW, karena itu adalah Bid’ah hasanah menurut sebahagian ulama, dan sunnah menurut sebahagian ulama yang lain.

Perbedaan pendapat tentang masalah definisi bid’ah, hanyalah bersifat istilahnya saja, tetapi hakikatnya sama.

 Bid’ah yang dimaksud disini adalah bid’ah yang bersangkutan dengan agama.

Kedua kelompok ulama yang berbeda tinjauannya tentang bid’ah itu semuanya termasuk golongan ahli sunnah wal jamaah. Walaupun definisi bid’ah yang kedua ini diikuti oleh ulama - ulama lain.


Oleh: Teungku Nashiruddin bin Hanafiyyah Asy Syafi’iy Al Asyiy

Friday, December 14, 2018

PENJELASAN TENTANG FIRMAN ALLAH : ALLAH ISTAWA DI 'ARASY (الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى)

Untuk mengetahui  bagaimana tafsir dari ayat ini dan bagaimana aqidah kaum ahli sunnah tentang ayat ini dan ayat-ayat  serta hadits-hadits mutasyabihat lainnya, maka marilah kita memperhatikan pendapat para ulama ahli sunnah berikut ini:




1 .Imam  Al Baihaqiy (wafat 458 H ) meriwayatkan :
“Yahya bin Yahya berkata:” Dulu kami disisi Malik bin Anas, maka tiba-tiba datanglah seorang laki-laki lalu ia berkata: “ Wahai Aba Abdillah (panggilan untuk Imam Malik):
( الرحمن على العرش استوى  )
“Ar-Rahman istawa diatas Arsy “.( Thaha: 6 ). Bagaimana istawa ...?. Berkata (Yahya bin Yahya) maka Imam Malik menundukkan kepalanya hingga peluh membasahinya kemudian beliau berkata:
الاستواء غير مجهول ، والكيف غير معقول ، والإيمان به واجب ، والسؤال عنه بدعة ، وما أراك إلا مبتدعا ، فأمر به أن يخرج
Al-Istiwa’ tidak majhul (artinya diketahui), dan kaifiyat tiada diketahui, dan beriman dengannya wajib, dan bertanya tentangnya adalah bid’ah, dan aku tidak melihat engkau kecuali seorang yang bid’ah. Lalu Imam Malik memerintahkan supaya ia keluar. (Lihat dan baca secara lengkap  kitab Al- I’tiqad karangan Imam Al-Baihaqiy, pada bab Al-Istiwa’)

Berkata  Sufyan bin Uyainah:
كل ما وصف الله تعالى من نفسه في كتابه فتفسيره تلاوته ،
“Tiap-tiap barang yang mensifatkan oleh Allah  daripada diri-Nya didalam kitab-Nya, maka tafsirnya adalah membacanya dan diam atasnya”. (Riwayat Al-Baihaqiy dalam kitab Al-Asma’ wa Al-Shifat)

Imam  Al-Baihaqiy berkata:
والآثار عن السلف في مثل هذا كثيرة « وعلى هذه الطريق يدل مذهب الشافعي رضي الله عنه ، وإليها ذهب أحمد بن حنبل والحسين بن الفضل البجلي . ومن المتأخرين أبو سليمان الخطابي
“Dan atsar dari pada Salaf pada masalah seperti ini banyak sekali. Dan atas thariqat ( jalan ) ini menunjuki  mazhab  Asy-Syafi’iy  Radhiyallahu ‘anhu, dan kepadanya bermazhab Ahmad bin Hanbal, dan Husain bin Fadhl Al-Bajaliy, dan Abu Sulaiman Al-Khathabiy daripada mutaakhirin”.(Lihat dan baca secara lengkap kitab Al-Asma’ wa Ash-Shifat  2/421)
Imam Al-Baihaqiy berkata :” Wajib untuk diketahui bahwa:
أن استواء الله سبحانه وتعالى ليس باستواء اعتدال عن اعوجاج ولا استقرار في مكان ، ولا مماسة لشيء من خلقه ، لكنه مستو على عرشه كما أخبر بلا كيف بلا أين ، بائن من جميع خلقه ،

Istiwa’ Allah Subhanahu wa Ta’ala, bukan istiwa’ lurus dari bengkok dan bukan menetap pada satu tempat, dan tidak  menyentuh bagi sesuatu daripada makhluk-Nya. Akan tetapi Allah istiwa’ diatas Arasy-Nya sebagaimana Ia mengkhabarkannya dengan tiada kaif (bagaimana), dengan tiada aina (dimana), Ia terlepas dari semua makhluk-Nya.”

 وأن إتيانه ليس بإتيان من مكان إلى مكان ، وأن مجيئه ليس بحركة ، وأن نزوله ليس بنقلة ، وأن نفسه ليس بجسم ، وأن وجهه ليس بصورة ، وأن يده ليست بجارحة ، وأن عينه ليست بحدقة ، وإنما هذه أوصاف جاء بها التوقيف ، فقلنا بها ونفينا عنها التكييف

“Dan bahwa ityan-Nya bukan datang dari satu tempat ke satu tempat. Dan bahwa maji’-Nya bukan dengan gerak. Dan bahwa nuzul-Nya bukan dengan berpindah. Dan bahwa nafs-Nya  bukan jisim. Dan bahwa  wajah-Nya bukan rupa. Dan bahwa yad-Nya bukan anggota. Dan bahwa ‘ain-Nya bukan bola mata. Dan hanya sanya ini semua adalah sifat-sifat  yang datang dengannya oleh tauqif (Al-Quran, Hadits), Maka kita  mengatakan dengannya dan kita nafikan ( tiadakan) kaifiyat daripadanya.  Maka sungguh telah berfirman Allah Ta’ala:

( ليس كمثله شيء  ، ( ولم يكن له كفوا أحد  )

“ Tiada yang menyerupai Dia suatu juapun”.(Asy-Syura: 11).” Dan tidak ada bagi-Nya kufu suatupun” (Al Ikhlas: 4 )

Imam Al Baihaqi meriwayatkan :”  Al Walid bin Muslim berkata: “ Orang bertanya kepada Al-Awza’iy, Malik, Sufyan Ats-Tsauriy , dan Al-Laits bin Sa’ad tentang hadits ini ( musyabihat), maka mareka berkata:

: أمروها كما جاءت بلا كيفية

"Perlakukanlah ia sebagaimana ia datang dengan tiada kaifiyat”. (Baca  kitab Al-I’tiqad secara lengkap pada bab Al-Istiwa’)

2 .  Berkata  Abu Mudhaffar  Mansur bin Muhammad bin Abdul Jabbar  As-Sam’aniy  : 426- 489 H , dalam tafsirnya:
ثم استوى على العرش ) أول المعتزلة الاستواء بالاستيلاء ، وأنشدوا فيه :

(“Kemudian Allah ber-istiwa’ diatas Arasy”) . Mu’tazilah menta’wilkan istiwa’ dengan istila’ ( menguasai ), dan mareka bersenandung padanya:

( قد استوى بشر على العراق ** من غير سيف ودم مهراق )

(Sungguh Basyar telah menguasai  diatas Iraq #  dengan tiada pedang dan darah yang ditumpahkan)

( وأما أهل السنة فيتبرءون من هذا التأويل ، ويقولون : إن الاستواء على العرش صفة لله - تعالى - بلا كيف ، والإيمان به واجب ، كذلك يحكى عن مالك بن أنس ، وغيره من السلف ، أنهم قالوا في هذه الآية : الإيمان به واجب ، والسؤال عنه بدعة .
“Dan adapun Ahli Sunnah, maka berlepas diri daripada ta’wil ini, dan mareka berkata: “ Sungguh istiwa‘alal ‘Arsyi  adalah sifat bagi Allah Ta’ala dengan tiada kaifiyat,  dan beriman dengannya adalah wajib, seperti demikian dihikayahkan dari Malik bin Anas dan lainnya  daripada Salaf, bahwa  mareka berkata pada ayat ini:” Beriman dengannya wajib  dan bertanya tentangnya adalah bid’ah.”(Baca Tafsir As-Sam’ani   ayat 54 surat Al-A’raf).

3 . Berkata Abu Muhammad  Husain bin Mas’ud Al- Baghawi  Asy-Syafi’iy ( Wafat tahun: 510 H)dalam Tafsirnya. Ma’alimut Tanzil:
ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ } قال الكلبي ومقاتل: استقر. وقال أبو عبيدة: صعد. وأولت المعتزلة الاستواء بالاستيلاء،

“Berkata Al Kalabiy dan Muqatil : Istawa = Istaqarra (tetap). Dan berkata Abu ‘Ubaidah : Istawa = Sha’ida (naik). Dan Mu’tazilah menta’wilkan istiwa  dengan istila’ (mengalahkan dan menguasai)

 وأما أهل السنة فيقولون: الاستواء على العرش صفة لله تعالى، بلا كيف، يجب على الرجل الإيمان به، ويكل العلم فيه إلى الله عز وجل.

“Dan Adapun Ahli Sunnah maka mareka berkata: “ Al-Istiwa’  ‘alal ‘Arsyi adalah satu sifat bagi Allah Ta’ala dengan tiada kaifiyat, wajib atas seseorang beriman dengannya, dan menyerahkan ilmu padanya kepada Allah ‘Azza wa Jalla”.

وروي عن سفيان الثوري والأوزاعي والليث بن سعد وسفيان بن عيينة وعبد الله بن المبارك وغيرهم من علماء السنة في هذه الآيات التي جاءت في الصفات المتشابهة: أمِرّوها كما جاءت بلا كيف.

“Diriwayatkan dari Sufyan Ats-Tauriy, Al-Awza’iy, Al-Laits bin Sa’ad, Sufyan bin ‘Uyainah, Abdullah bin Al-Mubarrak dan lain-lain daripada ulama sunnah tentang ayat-ayat yang datang pada sifat-sifat yang mutasyabih (serupa), mareka berkata: “ Perlakukanlah ia sebagaimana ia datang dengan tiada kaifiyat”. (Baca :Tafsir Al Baghawiy secara lengkap pada surat Al-A’raf ayat 54)


4 . Berkata Ibnu Katsir  dalam tafsirnya

وإنما يُسلك في هذا المقام مذهب السلف الصالح: مالك، والأوزاعي، والثوري،والليث بن سعد، والشافعي، وأحمد بن حنبل، وإسحاق بن راهويه وغيرهم، من أئمة المسلمين قديما وحديثا، وهو إمرارها كما جاءت من غير تكييف ولا تشبيه ولا تعطيل.

“Dan hanya sanya yang ditempuh pada masalah ini adalah mazhab Salafus Shalih, yaitu Malik, Al-Awza’iy, Ats-Tsauriy, Al-Laits bin Sa’ad, Asy-Syafi’iy, Ahmad bin Hanbal, Ishaq bin Rahawaih dan lain-lain daripada Imam–imam Muslimin dulu dan sekarang, yaitu memberlakukannya (ayat-ayat musyabbihat) sebagaimana ia datang daripada tiada mengkaifiyatkan dan tiada mentasybihkan (menyerupakan) dan tiada menta’thilkan (mentiadakan sifat-sifat yang datang dalam ayat-ayat tersebut). (Lihat Tafsir Ibnu Katsir secara lengkap pada tafsir surat Al-A’raf ayat 54)

Ibnu Katsir  mengambil kata-kata Nu’aim bin Himad Al-Khuza’iy  Syaikh Al-Bukhariy:

"من شبه الله بخلقه فقد كفر، ومن جحد ما وصف الله به نفسه فقد كفر". وليس فيما وصف الله به نفسه ولا رسوله تشبيه، فمن أثبت لله تعالى ما وردت به الآيات الصريحة والأخبار الصحيحة، على الوجه الذي يليق بجلال الله تعالى، ونفى عن الله تعالى النقائص، فقد سلك سبيل الهدى.

“Barangsiapa menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya maka ia telah jadi kafir. Dan barangsiapa mengingkari apa yang telah disifatkan Allah akan diri-Nya dengannya maka ia telah menjadi kafir. Dan tidak ada pada apa yang telah disifatkan Allah akan diri-Nya denganya tasybih (serupa). Maka barang siapa yang menetapkan bagi Allah Ta’ala apa yang datang ayat-ayat yang sharih(jelas) dan hadits-hadits yang shahih dengannya, atas jalan yang layak dengan Jalal Allah Ta’ala, dan menafikan segala kekurangan daripada Allah Ta’ala, maka ia telah berjalan pada jalan petunjuk”.


5 . Berkata  Jalaluddin As- Sayutiy  Asy-Syafi’iy (wafat  911 H) dalam tafsir  Ad-Durrul Mantsur:

“Mengeluarkan oleh Ibnu Mardawih dan  Al-Lalka-iy  dalam sunnah dari Ummi Salamah Ummil Mu’minin Radhiyallahu ‘anha, tentang  firman Allah :

ثم استوى على العرش } قالت : الكيف غير معقول  والاستواء غير مجهول  والاقرار به ايمان والجحود به كفر .

“(Kemudian Allah ber-istiwa’ diatas Arasy)”,  Ummu Salamah berkata:” Kaifiyat tidak diketahui, dan istiwa’ tidak majhul , dan ber-ikrar (mengakui) dengannya  adalah iman, dan mengingkari dengannya adalah kufur”.


6 . Berkata Imam Al- Ghazaliy

وأنه مستو على العرش على الوجه الذي قاله وبالمعنى الذي أراده استواء منزها عن المماسة والاستقرار والتمكن والحلول والانتقال لا يحمله العرش بل العرش وحملته محمولون بلطف قدرته ومقهورون في قبضته

“Dan bahwa sesungguhnya Allah  ber-istiwa’ diatas ‘Arasy  diatas jalan yang Ia  mengatakannya, dan dengan ma’na yang Ia menghendakinya, sebagai  istiwa’ yang Maha Suci Ia daripada menyentuh dan tetap dan bertempat dan berpindah.  Arasy tidak menanggung-Nya, tetapi  Arasy dan pembawanya yang ditanggung dengan  kelembutan qudrat-Nya dan yang  dikalahkan dalam genggaman-Nya”.(Ihya’  “Ulumuddin, pada kitab Qawaid ‘Aqidah)


6 . Berkata Abu Mansur  Abdul  Qahir bin Thahir Al Baghdadiy (wafat 429 H ), dalam kitab Al-Faraq bainal Firaq:

“ Berkata Amiril Mukminin Aliy Radhiyallahu ‘anhu:

ان الله تعالى خلق العرش اظهارا لقدرته لا مكانا لذاته

 “Sesungguhnya Allah Ta’ala menjadikan Arasy untuk mendhahirkan bagi qudrah-Nya bukan untuk tempat bagi zat-Nya”. (Lihat; Alfaraq bainal Firaq, hal 321).

Saidina Aliy berkata pula:

قد كان ولا مكان وهو الآن على ما كان

“ Sungguh telah ada Allah dan tidak ada tempat, dan Allah sekarang atas apa yang dulu ada  Ia”. (Lihat; Alfaraq bainal Firaq, hal 321).


7 .  Tersebut dalam  tafsir Samarqand

وإنما خلق العرش لا لحاجة نفسه ولكن لأجل عباده ليعلموا أين يتوجهون في دعائهم لكي لا يتحيّروا في دعائهم ، كما خلق الكعبة علماً لعبادتهم ، ليعلموا إلى أين يتوجهون في العبادة .

“Hanya sanya Allah menjadikan Arsy bukan karena hajat diri-Nya, tetapi karena hamba-Nya supaya mareka mengetahui  kemana mareka berhadap pada do’a mareka supaya mareka tidak bingung pada doa mareka. Sebagaimana Allah menjadikan Ka’bah sebagai tanda bagi ibadat mareka supaya mareka mengetahui kemana mareka berhadap pada ibadat mareka.(Baca Tafsir Samarqandi secara lengkap pada tafsir ayat 54 surat Al-A’raf)


Itulah tafsir daripada ayat-ayat mutasyabbihat yang telah kami nukilkan daripada kitab-kitab tafsir ulama-ulama ahli sunnah dan i’tiqad mareka tentang ayat-ayat itu.


Oleh: Teungku Nashiruddin bin Hanafiyyah Al-Asyiy Asy-Syafi’iy , tahun 2011